Nilai tukar rupiah saat ini berada di ambang zona merah yang mengkhawatirkan, nyaris menembus level Rp17.000 per dollar AS. Jika angka ini benar-benar terlewati, kita tidak lagi hanya bicara soal angka di layar monitor para trader saham, melainkan sebuah guncangan ekonomi riil yang akan mengetuk pintu setiap rumah tangga di Indonesia.
Berikut adalah lima dampak domino yang patut kita waspadai jika rupiah terus terdepresiasi:
1. Ancaman Imported Inflation
Ketika nilai tukar melemah, harga barang-barang yang kita datangkan dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal. Fenomena ini disebut sebagai Imported Inflation (inflasi dari barang impor). Produsen yang mengandalkan bahan baku luar negeri terpaksa menaikkan harga jual produknya di pasar domestik agar tidak merugi. Akibatnya, kenaikan harga barang secara umum (inflasi) tidak bisa dihindari, yang secara langsung akan menggerus tabungan dan daya beli masyarakat.
2. Harga Bahan Makanan Impor Meroket
Dapur rumah tangga adalah sektor yang paling cepat merasakan dampaknya. Perlu diingat bahwa banyak komoditas pangan kita seperti gandum (bahan baku mi dan roti), kedelai (bahan tahu dan tempe), hingga daging sapi masih sangat bergantung pada impor. Jika dollar menguat, biaya pengadaan bahan pangan ini naik drastis, yang berujung pada kenaikan harga di pasar tradisional maupun swalayan.
3. Tekanan pada Cicilan Kendaraan dan KPR
Pelemahan rupiah biasanya direspons oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas mata uang. Dampak turunannya? Perbankan kemungkinan besar akan menyesuaikan bunga pinjaman. Bagi Anda yang sedang mencicil mobil, motor, atau memiliki KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan bunga mengambang (floating), siap-siap menghadapi tagihan bulanan yang lebih tinggi.
4. Harga Komponen Otomotif dan Konstruksi Rumah Naik
Sektor manufaktur dan properti sangat sensitif terhadap kurs. Industri otomotif masih mengimpor banyak komponen mesin dan elektronik, sementara sektor konstruksi sangat bergantung pada harga besi dan baja yang dipengaruhi harga global. Jika rupiah tembus Rp17.000, harga unit kendaraan baru maupun biaya membangun rumah dipastikan akan terkerek naik secara signifikan.
5. Risiko PHK Meningkat
Dampak yang paling pahit adalah potensi hilangnya lapangan kerja. Perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dollar atau yang biaya produksinya membengkak akibat bahan baku impor akan mengalami tekanan margin keuntungan yang hebat. Untuk bertahan hidup, efisiensi menjadi jalan terakhir. Jika biaya operasional tidak lagi tertutup oleh pendapatan, risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di sektor manufaktur dan retail menjadi ancaman nyata.
Sumber: kompascom
<< Kembali