Tren diskon besar-besaran di awal 2026 seringkali memicu Fear of Missing Out (FOMO) yang mengaburkan logika antara penghematan dan pemborosan. Agar kondisi finansial tetap sehat di awal tahun, berikut 5 tips untuk mengendalikan impuls belanja Kamu.

  1. Dekonstruksi Manipulasi Pemasaran

Pahami bahwa label seperti "Flash Sale" atau "Limited Stock" adalah teknik psikologis untuk mematikan fungsi logika di otak (korteks prefrontal). Faktanya, Diskon 70% bukan berarti Anda "untung" 70%, melainkan Anda tetap "kehilangan" 30% uang Anda. Fokuslah pada nilai nominal yang dikeluarkan, bukan pada besaran potongan harga.

  1. Metodologi Belanja "Checklist & Compare"

Jangan masuk ke medan belanja tanpa rencana. Gunakan sistem verifikasi sebelum transaksi, Pastikan barang serupa memang tidak ada di rumah, dan Gunakan pelacak harga untuk memastikan diskon tersebut nyata, bukan harga yang dinaikkan terlebih dahulu. Selain itu, kamu juga harus menghitung apakah harga barang sebanding dengan frekuensi pemakaiannya di masa depan.

  1. Terapkan Filter "Needs vs. Hype"

Gunakan matriks sederhana untuk menyaring keranjang belanja Kamu. Pertimbangkan barang di keranjang berdasarkan fungsional, emosional, atau pengganti. Setelah di pertimbangkan, kamu bisa memutuskan barang yang masuk keranjangmu, bisa kamu hapus atau tetap berada di keranjang.

  1. Batasan Teknis: "One-In, One-Out"

Untuk menghindari penumpukan barang yang tidak perlu, terapkan aturan ketat, setiap satu barang baru yang masuk ke rumah, satu barang lama harus dijual atau didonasikan. Aturan ini secara alami akan membuat Kamu berpikir dua kali sebelum menambah koleksi barang yang tidak esensial.

  1. Fokus pada Opportunity Cost

Setiap rupiah yang habis untuk barang konsumtif akibat FOMO adalah rupiah yang hilang untuk target masa depan. Bayangkan dana tersebut dialihkan ke dana darurat atau instrumen investasi. Memulai 2026 dengan portofolio hijau jauh lebih memuaskan daripada memulai tahun dengan tumpukan paket kiriman.

Bijak menghadapi diskon bukan berarti anti-belanja, melainkan bersikap selektif. Jangan biarkan algoritma toko daring mendikte bagaimana Kamu menghabiskan uang hasil kerja keras Kamu.

Sumber: unair.ac.id

<< Kembali