Banyak orang mengurungkan niat untuk membeli mobil listrik (Electric Vehicle/EV) karena satu ketakutan utama yaitu harga baterai yang luar biasa mahal jika rusak. Mitos ini berkembang pesat di masyarakat, seolah-olah baterai utama (traction battery) adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa membuat pemiliknya mendadak "boncos".

Namun, fakta di lapangan justru berkata berbeda, Studi terbaru dari Warrantywise, perusahaan penyedia garansi kendaraan asal Inggris, mengungkapkan bahwa baterai utama EV sebenarnya sangat jarang mengalami kerusakan parah. Lantas, komponen apa saja yang sebenarnya paling sering rusak dan paling menyedot isi dompet?

  1. Biaya Perbaikan Paling Mahal: On-Board Charger (OBC)

Jika ada satu komponen spesifik EV yang paling berisiko bikin kantong bolong saat rusak, jawabannya adalah On-Board Charger (OBC). OBC berfungsi mengonversi arus AC (misalnya dari colokan rumah atau wallbox) menjadi arus DC untuk mengisi daya baterai tegangan tinggi. Berdasarkan data Warrantywise yang dilaporkan Carscoops, biaya pengantian atau perbaikan komponen ini berkisar antara Rp52,2 juta hingga Rp252,9 juta. Angka yang fantastis untuk sebuah komponen elektronik internal!

Mengapa mahal? OBC adalah sistem konversi daya berteknologi tinggi yang bekerja under-stress setiap kali mobil diisi daya di rumah, sehingga penggantian unitnya membutuhkan biaya suku cadang dan teknisi spesialis yang tinggi.

  1. Masalah Paling Sering: Sistem Kelistrikan & Aki 12 Volt

Dibanding baterai utama, kerusakan yang paling sering dilaporkan pemilik mobil listrik ternyata berhubungan dengan sistem kelistrikan umum dan baterai 12V (aki konvensional).  Komponen seperti sensor, mekanisme central locking, hingga modul elektronik internal mendominasi daftar klaim perbaikan. Selain itu, aki 12V pada mobil listrik yang bertugas memberi daya pada lampu, layar hiburan, dan sistem pendukung sering kali tekor atau soak lebih cepat tanpa disadari.

  1. Komponen Fisik yang Bekerja Ekstra Kerus: Suspensi

Masalah mekanis yang paling sering menimpa mobil listrik justru datang dari sektor suspensi. Mobil listrik terkenal memiliki bobot yang sangat berat akibat menggendong pak baterai. Bobot berlebih ini memaksa komponen kaki-kaki, seperti arm/wishbone dan bushing, bekerja ekstra keras menopang beban serta meredam guncangan jalan. Akibatnya, suspensi EV jauh lebih rentan mengalami keausan. Untuk perbaikannya, Warrantywise mencatat biaya klaim perbaikan suspensi bisa menembus hingga 4.100 Poundsterling (sekitar Rp99,1 juta).

Sumber: Carscoops

<< Kembali