Pernah merasa bisnis sedang ramai dan omzet meningkat, tetapi saldo kas justru menipis? Hal ini bisa terjadi karena penjualan yang tercatat belum tentu langsung menjadi uang tunai, sementara biaya seperti gaji, sewa, operasional, dan pembayaran supplier tetap harus dipenuhi. Cash flow atau arus kas merupakan pergerakan uang masuk dan keluar dalam bisnis.

Cash flow yang seret sering disebabkan oleh pembayaran pelanggan yang terlambat, pengeluaran yang jatuh tempo lebih awal, persediaan berlebih, ekspansi terlalu cepat, atau keuangan pribadi yang bercampur dengan keuangan bisnis. Kondisi tersebut dapat membuat dana operasional terbatas meskipun penjualan terlihat baik.

Berikut 4 beberapa tips agar cash flow perusahaan tetap lancar:

  1. Untuk menjaga arus kas, bisnis dapat menetapkan jadwal pembayaran dan memantau piutang.
  2. Membuat proyeksi pemasukan serta pengeluaran.
  3. mengevaluasi persediaan, memisahkan dana operasional dari dana ekspansi, dan menggunakan rekening terpisah untuk keuangan pribadi maupun bisnis.
  4. Ketika membutuhkan dana tambahan untuk operasional, bisnis dapat mempertimbangkan pembiayaan modal kerja. OJK mencatat pembiayaan modal kerja oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 6,32% secara tahunan pada Juli 2026. CSULfinance menyediakan Pembiayaan Modal Kerja bagi perorangan, badan usaha, maupun badan hukum, termasuk modal usaha/pinjaman dana tunai dan anjak piutang (factoring).

Cash flow yang sehat tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet, tetapi juga oleh pengelolaan waktu penerimaan dan pengeluaran dana. Dengan memantau arus kas, mengelola piutang dan persediaan, serta merencanakan kebutuhan pembiayaan secara tepat, bisnis dapat menjaga kelancaran operasional dan mempersiapkan pertumbuhan ke depan.

Sumber: sba.gov & ojk.go.id

<< Kembali